Feb 24
Tips Menjalani Kehidupan dari Surat Al Ashr
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wasallam merupakan agama yang sangat sempurna. Di dalamnya tidak hanya dibahas persoalan ibadah dan muamalah saja, melainkan persoalan personal manusiapun tidak luput dari perhatian agama Islam. 

Dalam menjalani kehidupan manusia tidaklah luput dari sebuah kerugian, khususnya kerugian yang berkaitan dengan waktu. Agama Islam telah menyinggung ini secara lugas namun memiliki makna yang sangat mendalam di dalam Al Quran pada surat Al Ashr.

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِن (٣) 
 “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan menasihati untuk kesabaran”.

Imam Ibnu Katsir yang merupakan seorang ahli tafsir di abad ke 7 hijriah di dalam kitab Tafsirnya, Al Quran Al ‘Azhim atau yang lebih familiar disebut dengan Tafsir Ibnu katsir, mengutip pekataan dari Imam Asy Syafi’i saat beliau menjelaskan makna dari surat ini.

لو تدبّر الناس هذه السورة لوسعتهم
“Seandainya manusia mau merenungkan surat Al Ashr ini, maka itu telah mencukupi mereka”

Di dalam surat ini Allah secara jelas memberikan isyarat kepada kita akan keadaan merugi yang siap datang menghampiri manusia kapanpun dan di manapun, kecuali bagi mereka yang mengamalkan 4 perkara:

1. Beriman kepada Allah
Ketika menafsirkan surat ini, Imam As Sa’di menjelaskan makna perintah untuk beriman kepada Allah, bahwasannya iman tersebut tidak akan didapat kecuali dengan ilmu. Hal ini juga serupa dengan apa yang  Imam Al Bukhori lakukan saat menamai salah satu bab dalam kitab Sohihnya dengan “Berilmu sebelum berkata dan beramal”. Dari sini bisa ketahui dengan jelas bahwa orang yang berilmu akan selamat dari kerugian.

2. Beramal Saleh
Masudnya adalah mengamalkan ilmu yang sudah dia perlajari. Adapun ilmu yang dimaksudkan adalah yang dapat menambahkan keimanan kita kepada Allah, agar tergerak untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, serta ilmu yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia. Dengan ini maka manusia akan terbebas dari kerugian di dunia maupun di akhirat.

3. Menasehati dalam Kebenaran dan Kebaikan
Tujuannya adalah saling memotivasi, menasehati, mendorong manusia untuk saling mengingatkan agar sadar akan pentingnya beriman dan beramal saleh. Oleh karena itu, seyogianya ilmu yang kita dapatkan juga kita sampaikan kepada orang lain, baik itu keluarga, sahabat, maupun saudara seagama dan seiman sekalipun kita belum mengenalinya, agar sama-sama bisa mendapatkan manfaat dan pahala dari Allah, serta terhindar dari kerugian.

4.  Menasehati dalam Kesabaran
Ketika melakukan sesuatu, kita selalu dituntut untuk bersabar, baik dalam hal yang bersifat duniawi maupun ukhrowi. Yang lebih penting lagi jika hal itu berkaitan dengan hubungan kita dengan Allah, agar kita selamat dari kerugian di dunia maupun di akhirat.

lalu Imam As Sa’di juga menjelaskan bahwa dua hal yang pertama, yaitu iman dan amal saleh, adalah upaya untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya adalah untuk menyempurnakan orang lain. Beliau menambahkan lagi, “Seorang manusia akan menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar”.

Al Quran yang merupakan pedoman umat muslim sudah menyebutkan empat perkara ini agar dapat dipahami, ditadabburi dan diamalkan dalam kehidupan, demi kebaikan diri sendiri dan orang lain.

(Disarikan dari buku Mereka Yang Merugi, Karya Muhammad Abduh Tuasikal)

Comments

There are no comments for this post.